Gorontalo Peringkat Kedua Potensi Radikalisme di Sulawesi : Ancaman Serius yang Tak Boleh Diabaikan
Oleh : Firgiyawan Mustaki
Peringkat kedua potensi radikalisme di Sulawesi yang disematkan kepada Gorontalo bukanlah kabar biasa. Ini adalah peringatan keras yang harus dijawab dengan tindakan nyata. Bagaimana mungkin daerah yang dijuluki “Serambi Madinah” tempat nilai-nilai Islam, adat, dan kearifan lokal tumbuh berdampingan justru menjadi salah satu wilayah paling rentan terhadap penyebaran ideologi radikal?
Fakta ini membuka mata kita bahwa radikalisme telah menyusup secara senyap ke dalam celah-celah kehidupan sosial, menyasar generasi muda, merusak harmoni, dan mengancam masa depan daerah. Ini bukan sekadar isu, ini adalah ancaman serius. Dan jika tidak ditangani secara sistematis dan menyeluruh, Gorontalo bisa menjadi ladang subur bagi ideologi kekerasan.
Radikalisme Tumbuh Karena Kita Diam
Radikalisme tidak hadir tiba-tiba. Ia muncul karena ada ruang yang dibiarkan kosong: ketimpangan sosial yang tak ditangani, pengangguran yang dibiarkan menumpuk, serta minimnya pendidikan ideologis dan keagamaan yang mencerahkan. Di tengah situasi ini, banyak anak muda Gorontalo merasa kehilangan arah dan sayangnya, paham radikal justru datang menawarkan “jalan keluar palsu”.
Media sosial menjadi medan utama penyebaran paham ekstrem. Bukan lagi di pelosok, radikalisme kini mengintai dari balik layar ponsel. Mereka menyusup dengan narasi canggih, membungkus kebencian dalam slogan agama, dan membangkitkan kemarahan melalui propaganda sosial. Ini bukan radikalisme konvensional, ini adalah radikalisasi senyap dan bahayanya jauh lebih dalam.
Cukup! Saatnya Kita Bergerak.
Gorontalo tidak boleh terus menjadi target. Kita harus bertindak bukan besok, tapi sekarang. Penanganan radikalisme tidak bisa hanya dibebankan pada aparat. Ini adalah tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat. Pemerintah daerah, tokoh agama, pendidik, komunitas, dan yang terpenting pemuda, harus bersatu dalam satu gerakan kolektif: menyelamatkan Gorontalo dari ancaman ideologi sesat.
Langkah-Langkah Tegas yang Harus Diambil:
1. Prioritaskan Isu Radikalisme dalam Kebijakan Daerah.
Pemerintah tidak boleh setengah hati. Masukkan isu radikalisme dalam rencana strategis pembangunan. Libatkan semua dinas pendidikan, agama, pemuda, sosial dalam satu barisan melawan penyebaran ide ekstrem.
2. Perkuat Literasi Ideologi dan Agama Moderat Sejak Dini.
Ajarkan Pancasila bukan sekadar hapalan, tapi sebagai fondasi hidup. Tanamkan pemahaman agama yang damai, terbuka, dan menghargai perbedaan. Pendidikan harus membentuk nalar kritis dan rasa kemanusiaan, bukan sekadar angka di rapor.
3. Bentuk dan Dukung Pasukan Kontra-Radikalisme Digital.
Fasilitasi pemuda untuk membuat konten digital yang menyuarakan toleransi dan persatuan. Jangan biarkan ruang maya dikuasai narasi kebencian. Pemuda harus dibekali alat, pelatihan, dan dukungan penuh untuk melawan dengan cerdas dan kreatif.
4. Buka Ruang Partisipasi Masyarakat secara Nyata.
Dengarkan suara dari daerah rawan. Libatkan mereka dalam musyawarah, dalam pembangunan, dalam kebijakan. Ketika masyarakat merasa dihargai dan dilibatkan, mereka tidak akan mudah tergoda oleh ideologi yang menjanjikan kekuasaan melalui kekerasan.
Gorontalo Tidak Boleh Gagal.
Gorontalo masih punya kekuatan budaya lokal yang kuat, masyarakat yang religius, pemuda yang cerdas dan berani. Tapi semua itu akan sia-sia jika kita memilih diam. Peringkat kedua ini bukan sekadar angka, melainkan panggilan untuk bertindak. Jika kita membiarkannya, kita sedang mempertaruhkan masa depan generasi kita sendiri.
Sudah cukup kita tertidur dalam kenyamanan semu. Ini saatnya bangkit. Radikalisme harus dilawan, bukan hanya dengan kata-kata, tapi dengan tindakan kolektif. Gorontalo harus berdiri tegak sebagai tanah damai, tanah kebersamaan, dan benteng terakhir dari nilai-nilai kebhinekaan di tengah badai ideologi ekstrem.














