POROSRAKYAT.ID – Beredarnya flayer penolakan terhadap calon Presiden BEM dari Angkatan 2023 menuai tanggapan dari sejumlah mahasiswa di lingkungan Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Salah satunya datang dari mahasiswa Fakultas Olahraga dan Kesehatan (FOK) UNG, Aril, yang menilai pencalonan mahasiswa angkatan 2023 sah-sah saja selama sesuai dengan aturan organisasi yang berlaku.
Menurut Aril, polemik yang berkembang seharusnya tidak dibangun atas dasar asumsi etika sepihak, melainkan dikembalikan pada mekanisme dan regulasi yang telah disepakati bersama dalam organisasi kemahasiswaan.
“Kalau memang sesuai aturan, kenapa harus dipermasalahkan? Sah-sah saja siapa pun maju sebagai calon Presiden BEM selama memenuhi syarat yang berlaku,” tegas Aril saat dimintai tanggapan terkait flayer penolakan tersebut.
Ia bahkan mempertanyakan narasi yang menyebut pencalonan dari Angkatan 2023 sebagai langkah yang tidak beretika. Menurutnya, etika organisasi tidak boleh dijadikan alat untuk membatasi hak mahasiswa dalam berpartisipasi di ruang demokrasi kampus.
“Yang jadi pertanyaan, siapa sebenarnya yang tidak beretika? Jangan sampai demokrasi kampus justru dibatasi oleh opini-opini yang menghakimi sebelum proses berjalan,” ujarnya.
Aril menambahkan, sebagai mahasiswa dan bagian dari organisasi, seluruh pihak seharusnya memberikan ruang yang sama kepada siapa pun yang ingin maju dan berkontribusi dalam kepemimpinan mahasiswa.
“Sebagai mahasiswa dan anak organisasi, kita jangan memberikan keterbatasan kepada siapa saja yang ingin maju sebagai calon Presiden BEM. Kalau dia layak, punya kapasitas, dan sesuai aturan, kenapa tidak kita dorong?” lanjutnya.
Ia juga berharap dinamika politik kampus tetap berjalan sehat tanpa adanya upaya pembatasan terhadap hak demokrasi mahasiswa. Menurutnya, kompetisi dalam pemilihan BEM seharusnya menjadi ruang adu gagasan dan kapasitas, bukan arena untuk menjatuhkan pihak tertentu melalui opini yang berpotensi memecah mahasiswa.
“BEM itu rumah bersama mahasiswa. Maka proses demokrasi harus dijaga agar tetap terbuka, adil, dan memberi kesempatan yang sama kepada semua,” tutup Aril.














