Polemik Capres BEM UNG, Azhar Laindjong : Jika Sesuai Aturan, Tidak Ada Hak Menolak Kandidat BEM

banner 120x600

POROSRAKYAT.ID – Dinamika menjelang pemilihan Presiden BEM di lingkungan Universitas Negeri Gorontalo (UNG) kembali menjadi perhatian mahasiswa setelah beredarnya flayer penolakan terhadap calon Presiden BEM dari Angkatan 2023. Menanggapi hal tersebut, mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UNG, Moh. Azhar Laindjong, menyampaikan pandangannya terkait pentingnya menjaga iklim demokrasi kampus yang sehat dan terbuka.

Menurut Azhar, pencalonan mahasiswa dari Angkatan 2023 merupakan hal yang wajar selama tetap berpijak pada aturan organisasi yang berlaku. Ia menilai seluruh proses demokrasi mahasiswa seharusnya dikembalikan pada regulasi dan mekanisme yang telah disepakati bersama.

“Selama sesuai dengan aturan, tentu sah-sah saja. Organisasi memiliki ketentuan yang menjadi landasan bersama, sehingga semua pihak sebaiknya menghormati proses yang berjalan,” ujar Azhar.

Ia juga menyoroti munculnya narasi yang mengaitkan pencalonan tersebut dengan persoalan etika. Bagi Azhar, penilaian mengenai etika tidak boleh menjadi alasan untuk membatasi ruang partisipasi mahasiswa dalam kontestasi kepemimpinan kampus.

“Yang perlu dipertanyakan adalah, siapa sebenarnya yang tidak beretika? Jangan sampai ruang demokrasi justru dipersempit oleh pandangan yang membatasi hak mahasiswa untuk berpartisipasi,” katanya.

Lebih lanjut, Azhar menegaskan bahwa mahasiswa sebagai bagian dari organisasi semestinya menghadirkan budaya politik kampus yang inklusif dan memberi kesempatan yang sama kepada seluruh kader yang memiliki kapasitas untuk memimpin.

“Sebagai mahasiswa dan anak organisasi, kita seharusnya tidak memberikan batasan kepada siapa pun yang ingin maju sebagai calon Presiden BEM. Jika ia layak, memiliki kemampuan, dan memenuhi aturan yang ada, maka sudah sepatutnya kita dorong bersama,” lanjutnya.

Azhar berharap dinamika yang berkembang dapat menjadi pembelajaran politik yang dewasa bagi seluruh mahasiswa. Menurutnya, pemilihan Presiden BEM seharusnya menjadi ruang adu gagasan, integritas, dan kualitas kepemimpinan demi kemajuan organisasi mahasiswa di UNG.

“Demokrasi kampus akan tumbuh sehat apabila seluruh mahasiswa mampu menjunjung keterbukaan, menghargai proses, dan memberikan kesempatan yang adil bagi semua,” tutup Azhar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *