FIP UNG dalam Persimpangan: Ketika Organisasi Dibiarkan Berjuang Sendiri

banner 120x600

FIP UNG dalam Persimpangan: Ketika Organisasi Dibiarkan Berjuang Sendiri

Oleh : Nahrul Hayat Ajirama (Aktivis Pendidikan)

Di tengah dinamika organisasi kemahasiswaan yang semakin kompleks, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Gorontalo justru sedang menghadapi ironi yang memprihatinkan. Degradasi semangat organisasi kini tampak semakin nyata. Namun persoalannya bukan semata pada keterbatasan mahasiswa, melainkan pada sikap pimpinan fakultas yang seolah memilih menjadi penonton di tengah kemunduran tersebut.

Alih-alih hadir memberikan arah, motivasi, dan solusi, pihak fakultas—khususnya yang memiliki tanggung jawab dalam urusan kemahasiswaan—justru dinilai belum mampu menciptakan iklim organisasi yang sehat dan suportif. Organisasi mahasiswa dipaksa bertahan di ruang yang serba terbatas, minim pendampingan, miskin transparansi, dan tanpa keberpihakan yang jelas terhadap penguatan kapasitas mahasiswa.

Persoalan anggaran menjadi salah satu contoh paling nyata. Setiap tahun, organisasi mahasiswa dihadapkan pada berbagai syarat administratif serta indikator kinerja utama (IKU) yang dijadikan dasar pencairan anggaran. Ironisnya, proses sosialisasi mengenai mekanisme tersebut tidak berjalan maksimal. Akibatnya, mahasiswa sering kali bergerak dalam ketidakpastian.

Dalam konteks ini, peran Wakil Dekan III yang semestinya menjadi garda terdepan pembinaan kemahasiswaan justru dipertanyakan. Sebab pembinaan tidak cukup hanya hadir dalam seremoni atau formalitas administratif, melainkan harus diwujudkan melalui keberpihakan nyata terhadap kebutuhan organisasi mahasiswa.

Padahal, jika berbicara soal prestasi, mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan tidak pernah benar-benar absen dari persaingan. Berbagai capaian akademik maupun non-akademik terus lahir dari ruang-ruang organisasi. Mahasiswa mampu menunjukkan kapasitas, membangun gagasan, hingga bersaing di tingkat universitas maupun di luar kampus. Sayangnya, kerja kolektif itu sering kali hanya berakhir sebagai angka dalam laporan, tanpa apresiasi yang layak dari institusi.

Yang lebih memprihatinkan, sikap apatis dari sebagian pimpinan justru melahirkan kesan bahwa organisasi mahasiswa hanya dibutuhkan ketika berbicara mengenai citra dan penilaian institusi, tetapi diabaikan ketika membutuhkan dukungan nyata. Kampus yang seharusnya menjadi ruang tumbuh bagi intelektualitas, kepemimpinan, dan daya kritis mahasiswa perlahan berubah menjadi ruang sunyi yang kehilangan semangat keberpihakan.

Tulisan ini bukan sekadar keluhan emosional, melainkan bentuk kegelisahan yang lahir dari kepedulian. Sebab diam terhadap ketimpangan hanya akan melanggengkan kemunduran. Kritik adalah bagian dari cinta terhadap institusi. Dan organisasi mahasiswa tidak seharusnya diposisikan sebagai pelengkap administratif semata, melainkan sebagai denyut utama kehidupan akademik di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Gorontalo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *