Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Tani Merdeka Indonesia Provinsi Gorontalo, Rian Uno, memanfaatkan momentum Diklat Garuda Putih Periode 1 yang digelar di Ciawi pada 14–17 Mei 2026 untuk membawa dan menyampaikan berbagai persoalan, isu, serta aspirasi petani daerah kepada Wakil Menteri Pertanian Republik Indonesia, Sudaryono.
Dalam forum yang dihadiri kader Tani Merdeka Indonesia dari seluruh Indonesia tersebut, Rian Uno menegaskan masih banyak persoalan pertanian di daerah yang membutuhkan perhatian serius pemerintah. Mulai dari kelangkaan pupuk, ketidakstabilan harga hasil panen, lemahnya perlindungan terhadap petani kecil, persoalan distribusi bantuan pertanian, hingga minimnya akses petani terhadap teknologi dan pembiayaan usaha tani.
Menurut Rian, Diklat Garuda Putih bukan hanya menjadi ruang pembentukan karakter dan kedisiplinan kader, tetapi juga momentum strategis untuk menyuarakan langsung kondisi riil petani di lapangan kepada pemerintah pusat. Ia menilai aspirasi petani tidak boleh berhenti di tingkat daerah, melainkan harus diperjuangkan hingga menjadi perhatian nasional.
“Kami membawa langsung berbagai keresahan petani dari Gorontalo dan daerah lainnya. Masih ada banyak persoalan yang dirasakan petani hari ini, baik soal pupuk, harga panen yang sering jatuh, sampai perlindungan terhadap petani kecil yang belum maksimal. Momentum diklat ini kami manfaatkan untuk menyampaikan langsung kepada Bapak Wamentan agar suara petani benar-benar didengar,” ujar Rian Uno.
Ia juga menekankan bahwa keberpihakan terhadap petani harus diwujudkan melalui kebijakan nyata yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat tani. Menurutnya, petani merupakan fondasi ketahanan pangan nasional sehingga setiap kebijakan pertanian harus berpihak pada kesejahteraan petani, bukan justru membebani mereka.
Dalam kesempatan tersebut, Rian Uno turut mengapresiasi kehadiran langsung Sudaryono dan jajaran pimpinan nasional Tani Merdeka Indonesia yang dinilai membuka ruang dialog serta menerima berbagai masukan dari kader daerah secara terbuka. Ia berharap seluruh isu dan aspirasi yang telah disampaikan dapat menjadi perhatian serius untuk ditindaklanjuti demi kemajuan sektor pertanian nasional.
“Petani tidak boleh terus berada dalam posisi yang lemah. Negara harus hadir memberikan perlindungan, kepastian harga, akses pupuk, dan dukungan penuh terhadap produktivitas pertanian rakyat. Kami di daerah akan terus mengawal dan memperjuangkan kepentingan petani,” tegasnya.
Diklat Garuda Putih Periode 1 sendiri menjadi ajang konsolidasi nasional kader Tani Merdeka Indonesia dalam memperkuat semangat pengabdian, kepemimpinan, serta perjuangan organisasi untuk mendukung kemajuan pertanian dan kesejahteraan petani Indonesia.














