Daerah  

Akhiri Pengabdian di Limboto, Mahasiswa Ners UNG Tuai Apresiasi Camat

banner 120x600

POROSRAKYAT.ID – Setelah tujuh minggu mengabdi, belajar, dan berinteraksi langsung dengan masyarakat, pelaksanaan Stase Keperawatan Komunitas dan Keluarga oleh Mahasiswa Profesi Ners Universitas Negeri Gorontalo (UNG) akan resmi berakhir besok, di wilayah Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo.

Bukan sekadar praktik akademik, kegiatan ini telah menjadi ruang nyata pengabdian dan kolaborasi. Para mahasiswa hadir di empat kelurahan—Hutuo, Dutulanaa, Hepuhulawa, dan Kayubulan—membawa semangat promotif dan preventif melalui edukasi kesehatan, kunjungan rumah, pemeriksaan kesehatan dasar, hingga penyuluhan gizi dan program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Semua kegiatan itu dilakukan dengan satu semangat: belajar sambil mengabdi.

Di sela waktu menjelang Salat Jumat, Camat Limboto, Abdul Azis Pakaya, SST., M.P.H., menyampaikan apresiasi sekaligus pesan penuh makna kepada para mahasiswa yang akan segera menyelesaikan masa praktiknya.

“Kalian bukan hanya datang membawa ilmu, tapi juga energi baru untuk masyarakat. Kehadiran kalian membuka mata banyak orang bahwa kesehatan bukan hanya urusan rumah sakit, tapi dimulai dari rumah, keluarga, dan komunitas,” ungkap Camat Azis.

Lebih lanjut, beliau menekankan pentingnya membawa pengalaman dari lapangan ini sebagai bekal dalam perjalanan profesi keperawatan yang sesungguhnya.

“Ilmu terbaik tidak hanya didapat dari buku dan ruang kelas, tapi dari sentuhan langsung dengan masyarakat. Teruslah menjadi perawat yang punya hati, bukan hanya keahlian teknis. Karena di medan tugas nanti, empati akan jauh lebih berharga daripada teori,” tegasnya.

Kegiatan stase ini menjadi bukti kuat bahwa sinergi antara dunia pendidikan dan pemerintah daerah mampu mendorong transformasi layanan kesehatan berbasis komunitas. Mahasiswa bukan hanya belajar, tetapi juga turut berkontribusi dalam membangun kesadaran kesehatan warga.

Kini, saat waktunya berpamitan tiba, para mahasiswa membawa pulang lebih dari sekadar pengalaman—mereka membawa cerita, pelajaran hidup, dan ikatan emosional yang tidak akan mudah hilang. Sementara itu, di hati masyarakat Limboto, akan tetap tertinggal senyum-senyum ramah, sapa tulus, dan semangat sehat yang mereka tinggalkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *