Opini  

E-Vote: Demokrasi Digital atau Demokrasi yang Diperjualbelikan?

banner 120x600

E-Vote: Demokrasi Digital atau Demokrasi yang Diperjualbelikan?

Oleh : Syaidah (Aktivis Mahasiswa)

Universitas Negeri Gorontalo. Merupakan salah satu kampus negeri yang berada di prov Gorontalo yang sudah terakreditasi Unggul dan berdaya saing, yang hari ini sedang diuji teknologi dan integritas nya. Pemilihan Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa—yang seharusnya menjadi ajang pesta demokrasi kampus—justru berubah menjadi panggung drama e-vote yang menyisakan banyak tanya.

E-voting, sistem pemilihan digital yang digadang-gadang sebagai simbol kemajuan, justru kini digugat karena dianggap sarat kecurangan. Beberapa mahasiswa menyebut sistem ini tidak transparan. Bahkan ada dugaan bahwa data bisa dimanipulasi, akses bisa diretas, dan suara bisa dicurangi—semua terjadi dalam senyap, di balik layar.

Bahkan hal tersebut diakui pada pemilihan badan eksekutif mahasiswa UNG tahun 2024, dimana pemilihan pada tanggal 29 April 2024 di tunda karena sistem mengalami gangguan akibat peretasan, hal ini membuktikan bahwa sistem E-VOTE tidak bisa diakui keamanannya.

Panitia pelaksana berdalih, e-vote lebih efisien dan ramah lingkungan. Tapi bukankah efisiensi tak boleh mengorbankan keadilan? Apa artinya cepat jika hasilnya diragukan? Apa gunanya modern jika tak menjamin demokrasi yang ada?

Keriuhan ini bukan sekadar soal siapa yang menang atau siapa yang kalah. Ini soal kepercayaan. Soal bagaimana demokrasi dipelihara, bahkan di tingkat mahasiswa. Karena hari ini kita bicara kampus, tapi besok kita bicara bangsa.

Dan jika demokrasi mulai dikorupsi sejak di bangku kuliah, pertanyaannya bukan lagi *siapa presiden BEM yang terpilih*. Tapi *generasi macam apa yang sedang kita siapkan?*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *