Daerah  

SEMMI Gorontalo Ingatkan Ancaman Jaringan Teror di Tengah Turunnya Indeks Radikalisme

banner 120x600

Pimpinan Wilayah Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (PW SEMMI) Provinsi Gorontalo menyambut positif pemaparan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) terkait perbaikan indeks potensi radikalisme di Provinsi Gorontalo.

Ketua PW SEMMI Provinsi Gorontalo, Majid Mustaki, mengatakan penurunan indeks tersebut patut disyukuri karena menunjukkan bahwa berbagai upaya pencegahan yang selama ini dilakukan mulai memberikan hasil.

“Kalau menurut FKPT indeksnya turun, tentu Alhamdulillah. Ini menjadi kabar baik dan menunjukkan bahwa usaha pencegahan yang selama ini dilakukan mulai memberikan hasil,” ujar Majid.

Menurutnya, salah satu upaya yang patut diapresiasi adalah kegiatan pencegahan dan edukasi yang dilakukan Satgaswil AT Densus 88 Provinsi Gorontalo di berbagai lingkungan, termasuk sekolah tingkat SMP dan SMA serta masyarakat.

Kegiatan edukasi dan wawasan kebangsaan dinilai penting untuk membangun daya tangkal generasi muda terhadap paham radikal dan propaganda kelompok terorisme, terutama di tengah perkembangan teknologi digital.

Namun demikian, Majid mengingatkan agar penurunan indeks tersebut tidak membuat seluruh pihak lengah. Ia menegaskan bahwa ancaman radikalisme dan terorisme masih harus menjadi perhatian serius, terutama karena pola perekrutan kelompok teror saat ini semakin menyasar anak-anak dan remaja melalui ruang digital.

“Yang harus diketahui dan menjadi perhatian kita bersama, jaringan teror yang melakukan perekrutan terhadap anak-anak dan remaja sudah masuk ke Gorontalo. Karena itu, kita tidak boleh lengah hanya karena indeks mengalami penurunan,” tegas Majid.

Menurutnya, perkembangan teknologi telah membuat pola perekrutan semakin sulit dideteksi. Media sosial, ruang percakapan digital hingga game online dapat dimanfaatkan untuk membangun komunikasi, memengaruhi pola pikir dan mendekati kelompok usia muda.

“Pola perekrutan sekarang berbeda. Tidak selalu dilakukan secara terbuka. Anak-anak dan remaja bisa didekati melalui media sosial, kemudian dibangun komunikasinya secara perlahan. Bahkan ruang interaksi dalam game online juga harus menjadi perhatian,” jelasnya.

Majid menilai kondisi tersebut membutuhkan perhatian bersama dari pemerintah, aparat keamanan, sekolah, keluarga, tokoh agama, organisasi kepemudaan dan masyarakat. Menurutnya, pencegahan tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan keamanan, tetapi harus diperkuat dengan literasi digital, pendidikan kebangsaan, pendidikan agama yang moderat serta pengawasan dan pendampingan terhadap anak.

Ia juga menyinggung perkembangan penanganan kasus terorisme di Gorontalo. Majid menyebut bahwa berdasarkan informasi yang diketahuinya, penangkapan terakhir terkait jaringan teror terjadi pada Oktober tahun sebelumnya, sementara hingga 2026 belum terdapat penangkapan baru yang dipublikasikan.

Menurutnya, tidak adanya penangkapan baru tidak boleh langsung dimaknai bahwa ancaman jaringan teror telah hilang.

“Jangan sampai tidak adanya penangkapan kemudian kita artikan bahwa jaringan sudah tidak ada. Justru deteksi dini dan pencegahan harus terus diperkuat. Kita harus memastikan anak-anak dan remaja di Gorontalo tidak menjadi sasaran perekrutan,” katanya.

PW SEMMI Gorontalo mendorong agar sinergi antara pemerintah daerah, aparat keamanan, sekolah, perguruan tinggi, organisasi kepemudaan, tokoh agama, masyarakat dan keluarga terus diperkuat.

Majid menilai keberhasilan pencegahan radikalisme tidak hanya diukur dari angka indeks, tetapi juga dari kemampuan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga ruang sosial dan digital agar tidak menjadi tempat berkembangnya propaganda ekstremisme.

“Indeks yang membaik adalah kabar baik dan harus kita syukuri. Tetapi kewaspadaan harus tetap hidup. Gorontalo membutuhkan generasi muda yang kuat karakter, memiliki wawasan kebangsaan, cerdas menggunakan media digital dan tidak mudah dipengaruhi propaganda kelompok teror,” pungkasnya.

PW SEMMI Gorontalo menilai perbaikan indeks potensi radikalisme harus menjadi momentum untuk memperkuat, bukan menghentikan, program pencegahan, khususnya terhadap potensi perekrutan anak dan remaja di ruang digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *