15 Tahun Terisolasi, Satgas Yonif 713/ST Bawa Semangat Kemerdekaan ke Ugimba

banner 120x600

‎Semangat kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2026 turut dirasakan masyarakat Distrik Ugimba, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah. Setelah 15 tahun berada dalam kondisi terisolasi, wilayah di kaki Gunung Cartenz ini kembali mendapat akses kehadiran negara melalui Satgas Yonif 713/Satya Tama.

‎Di tengah medan pegunungan yang ekstrem, para prajurit Satgas Yonif 713/ST harus menempuh perjalanan selama tujuh hari dengan berjalan kaki untuk mencapai Distrik Ugimba. Suhu udara yang mencapai 4 derajat Celsius menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi selama perjalanan.

‎Kehadiran prajurit tidak hanya ditujukan untuk memastikan keamanan wilayah, tetapi juga memberikan pelayanan dan kepedulian kepada masyarakat. Satgas menyalurkan bantuan berupa sembako, pakaian, serta obat-obatan bagi warga.

‎Puncak kehadiran Satgas Yonif 713/ST ditandai dengan pelaksanaan Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026 di Distrik Ugimba.

‎Upacara tersebut dipimpin Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III, Letjen TNI Lucky Avianto, S.I.P., M.Si., selaku Inspektur Upacara. Momen ini menjadi istimewa karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, masyarakat Ugimba dapat merasakan peringatan kemerdekaan dalam suasana yang lebih aman dan terbuka.

‎Bagi Satgas Yonif 713/ST di bawah pimpinan Dansatgas Letkol Inf Widyastomo, kehadiran di Ugimba bukan sekadar menjalankan tugas pengamanan. Kehadiran prajurit juga diarahkan untuk membangun kedekatan dengan masyarakat serta membuka ruang bagi aktivitas sosial dan pelayanan pemerintah.

‎Stabilitas keamanan diharapkan menjadi pintu masuk bagi terbukanya akses kehidupan masyarakat, mulai dari aktivitas sehari-hari, pelayanan publik, hingga pelaksanaan berbagai program pembangunan pemerintah daerah.

‎Dari wilayah pegunungan Papua Tengah, pengabdian prajurit Satgas Yonif 713/ST menjadi salah satu gambaran bagaimana makna kemerdekaan tidak hanya dirayakan dengan upacara, tetapi juga diwujudkan melalui hadirnya rasa aman, kepedulian, dan harapan bagi masyarakat.
‎Selama 15 tahun terisolasi, kini Ugimba kembali menatap masa depan dengan semangat kemerdekaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *