POROSRAKYAT.ID – Komunitas 1000 Guru Gorontalo bersama Yayasan Pena Kehidupan Insani sukses menggelar program sosial dan edukatif Traveling and Teaching (TnT) ke-27 di Desa Tombulilato, Kecamatan Atinggola, Kabupaten Gorontalo Utara, pada akhir pekan lalu.
Selama dua hari penuh, lebih dari 30 relawan dari berbagai latar belakang profesi seperti dokter, pengusaha, ASN, dan jurnalis, mengabdikan diri untuk menjalankan misi kemanusiaan dan edukasi. Kegiatan ini mencakup kelas inspirasi, permainan edukatif, pemeriksaan kesehatan dasar, serta penyerahan alat tulis dan susu gratis bagi anak-anak desa.
Kehadiran Wakil Gubernur Gorontalo
Pada hari kedua kegiatan, Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, hadir langsung untuk memberikan dukungan dan apresiasi atas semangat para relawan.
“Saya salut dengan kegiatan yang diadakan oleh 1000 Guru Gorontalo dan Yayasan Pena Kehidupan Insani. Uniknya, para relawan berasal dari berbagai macam kalangan dan profesi. Ini adalah contoh nyata kolaborasi lintas sektor yang menginspirasi,” ujar Idah Syahidah.
Beliau menambahkan bahwa kegiatan ini layak dijadikan teladan oleh para pemuda dan komunitas lainnya untuk berkontribusi nyata dalam pembangunan manusia, khususnya di sektor pendidikan dan sosial di daerah terpencil.
Kolaborasi yang Berdampak
Program Traveling and Teaching ini menjadi ruang berbagi ilmu, pengalaman, dan inspirasi bagi anak-anak desa yang minim akses pendidikan nonformal. Ketua Regional 1000 Guru Gorontalo, Muhammad Azhari Harahap, menyampaikan rasa syukur atas keberhasilan kegiatan ini.
“Traveling and Teaching ke-27 ini menjadi bukti bahwa anak muda dari berbagai latar belakang bisa bersatu dalam misi kemanusiaan. Kegiatan ini bukan hanya memberi, tapi juga menginspirasi—baik untuk anak-anak di desa maupun untuk para relawan.”
Dengan semangat “Mengajar sambil Menjelajah, Menginspirasi tanpa Batas,” gerakan ini diharapkan mampu menjadi pemantik bagi generasi muda untuk terlibat langsung dalam gerakan sosial yang nyata dan berkelanjutan.
Fokus pada Kesehatan Masyarakat Terpencil
Salah satu fokus utama kegiatan kali ini adalah penyuluhan tentang penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi dan diabetes. Penyuluhan ini dipimpin oleh dr. Mohamad Rifki Hulalata, Founder dan Ketua Yayasan Pena Kehidupan Insani.
“Banyak sekali saya temukan pasien hipertensi yang tidak terkontrol. Setelah digali lebih dalam, penyebab utamanya adalah keterbatasan akses ke fasilitas kesehatan. Untuk ke Puskesmas, mereka harus menyewa ojek Rp40.000 sekali jalan — beban berat bagi warga berpenghasilan terbatas,” jelas dr. Rifki.
Ia juga menyoroti pentingnya pemerataan akses layanan kesehatan serta peningkatan kesejahteraan tenaga medis di daerah terpencil.
“Harapan saya, infrastruktur pedesaan ke depan semakin memadai. Tapi yang lebih penting adalah kehadiran tenaga kesehatan di wilayah-wilayah ini. Kita harus membuat mereka betah dan merasa dihargai,” tambahnya.
Program ini menegaskan bahwa semangat gotong royong dan kepedulian sosial lintas profesi mampu menjadi kekuatan besar dalam menyentuh dan mengubah kehidupan masyarakat di pelosok. Kegiatan seperti Traveling and Teaching tidak hanya memberikan bantuan langsung, tetapi juga membuka cakrawala harapan dan inspirasi yang lebih luas, baik bagi penerima manfaat maupun para relawan.














