POROSRAKYAT.ID – Di atas perairan Teluk Tomini yang tenang, kehidupan di Desa Bajo, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, denyutnya menyatu dengan irama laut. Rumah-rumah panggung kayu berdiri kokoh di atas air, terhubung oleh jembatan-jembatan titian yang menjadi urat nadi komunitas. Aroma garam dan ikan segar menguar di udara, menjadi penanda sebuah negeri bahari yang mata pencaharian warganya terikat pada jaring dan perahu. Laut di sini adalah halaman, ladang, sekaligus sumber kehidupan.
Namun, di tengah protein bahari yang terhampar di depan mata, sebuah paradoks sunyi menghantui sebagian rumah tangga. Di desa yang kaya akan ikan ini, lima balita terdiagnosis menderita stunting—sebuah kondisi gagal tumbuh akibat malnutrisi kronis yang mengancam masa depan generasi. Ironi inilah yang mengusik sekelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Profesi Kesehatan (KKN-PK) dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) yang tiba di desa itu.
Para mahasiswa ini, dengan pendampingan akademis dari tim Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) yang terdiri dari Moh. Rivai Nakoe, S.Km., M.KL., apt. Faradila Ratu Cindana Mo’o, M.Farm., Yasir Mokodompis, S.KM, M.KM, dan Reinaldi Julfirman Saleh, S.KM., M.Kes., tidak datang dengan solusi siap pakai dari menara gading. Mereka mengamati, mendengar, dan menyadari bahwa jawaban atas masalah stunting di Bajo kemungkinan besar sudah ada di sana, tersembunyi di dalam kekayaan laut yang sama. Jawabannya adalah ikan kembung, sumber daya yang melimpah namun belum diolah secara optimal untuk gizi balita.
Maka, lahirlah sebuah terobosan: rolade ikan kembung. Sebuah ide sederhana namun strategis, mengubah ikan lokal menjadi produk olahan yang lezat, bergizi tinggi, dan ramah anak.
“Inovasi rolade ini sangat mungkin dilanjutkan,” ujar Kak Falih, salah satu mahasiswa pemateri, di hadapan warga. Suaranya terdengar mantap, memecah keraguan. “Selain dapat meningkatkan nafsu makan anak, bahan utamanya, ikan kembung, memiliki kandungan protein serta zat gizi esensial lainnya yang diperlukan dalam tumbuh kembang, bahkan lebih banyak dibandingkan ikan salmon”. Pernyataan ini menjadi titik balik, sebuah validasi ilmiah yang mengangkat martabat sumber daya lokal.

Puncak dari inisiatif ini terjadi pada sebuah Jumat di pertengahan Juli 2025. Balai Desa Bajo mendadak ramai, dipenuhi energi kolektif yang langka. Puluhan peserta terdiri dari ibu-ibu dasawisma, kader kesehatan, ibu balita, anggota PKK, hingga perwakilan karang taruna berkumpul. Di sekeliling mereka, terlihat cakrawala biru, panorama laut dan gugusan pulau menjadi saksi bisu kehangatan energi kolektif itu. Mereka datang bukan karena undangan formal semata, melainkan karena harapan.
Awaludin Kaili, koordinator desa dari pihak mahasiswa, membuka acara dengan menekankan pentingnya kolaborasi. Kemudian, Muh. Raihan Laide, anggota tim KKN lainnya, mengambil alih panggung. Dengan bahasa yang mudah dipahami, ia mengurai bahaya stunting, ancaman nyata yang selama ini mungkin hanya menjadi istilah medis yang samar bagi sebagian warga.
Suasana menjadi lebih hidup saat sesi beralih dari teori ke praktik. Di depan, Kak Alin dan Kak Ratna, dua anggota tim KKN, dengan cekatan mendemonstrasikan cara membuat rolade. Aroma harum kukusan rolade mulai menyebar, memancing rasa penasaran. Tak lama kemudian, piring-piring berisi potongan rolade hangat diedarkan. Keraguan di wajah para ibu perlahan sirna, digantikan oleh senyum dan anggukan setuju setelah mencicipi hidangan tersebut.
“Kami sudah pernah ikut sosialisasi gizi,” ungkap seorang ibu dari kelompok dasawisma. “Tapi baru kali ini ada pelatihan langsung yang mengajarkan cara membuat makanan tambahan seperti ini. Ini sangat bermanfaat”. Pujian tulus itu menjadi bukti bahwa program ini telah menyentuh kebutuhan nyata masyarakat.
Inisiatif ini dirancang untuk tidak berhenti saat para mahasiswa KKN pulang. Komitmen keberlanjutan datang dari jantung komunitas itu sendiri. Ibu Wina Wasir, S.Pd., Ketua PKK Desa Bajo, berdiri dan menegaskan dengan suara lantang, “Program ini tidak akan berhenti di sini. Rolade ikan kembung ini akan kami lanjutkan pada awal Agustus nanti, dengan diberikan secara rutin kepada seluruh balita dalam kegiatan posyandu”.
Dukungan penuh juga datang dari pucuk pimpinan desa. Alkam Narda, S.Fil.I, Kepala Desa Bajo, melihat ini sebagai langkah strategis. Baginya, ini bukan sekadar program pemberian makanan tambahan (PMT), melainkan pilar utama untuk mewujudkan visinya: menjadikan Desa Bajo sebagai daerah zero stunting.
Lebih jauh lagi, ada mimpi ekonomi yang membentang. Para mahasiswa telah menawarkan pendampingan bagi warga yang ingin merintis usaha rolade, lengkap dengan bantuan administrasi hingga pembuatan toko daring. Visi jangka panjangnya adalah menjadikan Desa Bajo pemasok utama PMT berbasis ikan kembung untuk tingkat provinsi, sebuah lompatan ekonomi yang dapat mengubah nasib komunitas nelayan ini.
Sinergi antara akademisi UNG, partisipasi aktif masyarakat pesisir, dan dukungan pemerintah lokal ini menjadi sebuah model percontohan. Di Desa Bajo, sebuah janji telah terucap: dari laut yang melimpah, akan lahir generasi penerus yang sehat, kuat, dan bebas dari bayang-bayang stunting.














