Aksi “Rabu Bergerak” Guncang Mapolda Gorontalo, Soroti Pembiaran Tambang Ilegal di Pohuwato dan Boalemo

banner 120x600

POROSRAKYAT.ID – Gelombang kemarahan masyarakat memuncak dalam aksi demonstrasi bertajuk Rabu Bergerak yang digelar di depan Mapolda Gorontalo. Sekelompok aktivis dan elemen sipil turun ke jalan menuntut penegakan hukum yang tegas dan tanpa kompromi terhadap praktik Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang semakin brutal di Kabupaten Pohuwato dan Boalemo.

Para demonstran secara terang-terangan menuduh aparat penegak hukum (APH) lalai dan bahkan terkesan melindungi aktivitas tambang ilegal yang telah menghancurkan lingkungan dan mengancam nyawa masyarakat sekitar. Dalam orasinya, mereka menyerukan agar Kapolda Gorontalo segera bertindak tegas dengan menghentikan operasi PETI serta menyita alat berat yang hingga kini masih bebas beroperasi di lokasi-lokasi tambang ilegal.

“Ini bukan lagi kelalaian, tapi pembiaran yang sistematis. Kejahatan lingkungan dibiarkan merajalela, sementara aparat seolah menutup mata. Publik pantas mempertanyakan: siapa sebenarnya yang dilindungi oleh hukum hari ini?” tegas salah satu orator.

Lebih mencengangkan lagi, aksi ini juga mengungkap dugaan kuat adanya praktik korupsi berjamaah berupa aliran dana ilegal alias “upeti” dari pelaku tambang ilegal kepada oknum aparat penegak hukum. Informasi yang beredar luas menyebutkan bahwa uang suap tersebut dijadikan sebagai ‘uang pengamanan’ agar aktivitas tambang ilegal tetap berlangsung tanpa gangguan.

Salah satu nama yang mencuat dan menjadi sorotan publik adalah seorang individu berjulukan “JOKER”. Sosok ini disebut-sebut kebal hukum dan hingga kini tidak pernah tersentuh proses hukum, meski keterlibatannya dalam tambang ilegal menjadi buah bibir masyarakat dan media.

“JOKER adalah simbol dari kebobrokan penegakan hukum kita. Selama ia masih bebas, publik akan terus percaya bahwa hukum bisa dibeli,” ujar salah satu peserta aksi dengan lantang.

Aksi ini bukanlah yang terakhir. Gerakan Rabu Bergerak diklaim akan terus hadir setiap pekan sebagai bentuk tekanan moral dan perlawanan sipil terhadap lemahnya komitmen aparat dalam menegakkan hukum.

“Kami tidak akan diam. Setiap Rabu, kami akan berdiri di sini—berteriak, mendesak, dan menuntut keadilan. Ini bukan hanya kritik, ini tamparan keras bagi aparat yang masih tunduk pada uang dan kekuasaan,” ujar massa aksi.

Aksi ini mencerminkan puncak kekecewaan masyarakat terhadap supremasi hukum yang dinilai mandul di hadapan tambang ilegal. Sebuah pengingat keras: ketika hukum tak lagi melindungi rakyat, maka rakyatlah yang akan turun untuk menagih keadilan.

Penulis: porosrakyat.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *