Opini  

Bone Bolango Rumah Kita

banner 120x600

Bone Bolango Rumah Kita

Oleh: Firgiyawan Mustaki (Ketua Wilayah Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) Provinsi Gorontalo)

Rumah tidak akan runtuh hanya karena hujan yang deras. Rumah justru akan rapuh ketika para penghuninya saling merobohkan tiang penyangganya.

Begitulah saya memandang Bone Bolango hari ini.

Daerah yang kita cintai ini sedang menghadapi dinamika yang tidak ringan. Ruang publik dipenuhi berbagai narasi, tuduhan, opini, bahkan informasi yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan. Media sosial berubah menjadi arena saling menyerang. Perbedaan pandangan politik tidak lagi diperdebatkan melalui gagasan, tetapi sering kali melalui narasi yang menguras emosi dan memperuncing perpecahan.

Padahal, politik seharusnya menjadi jalan untuk menghadirkan kesejahteraan, bukan panggung untuk mempertontonkan permusuhan.

Dalam kehidupan demokrasi, setiap warga negara memiliki hak untuk mengawasi jalannya pemerintahan. Kritik adalah hak konstitusional yang harus dijaga. Bahkan, kritik yang jujur dan berbasis fakta merupakan bentuk kecintaan kepada daerah. Namun, kita juga harus menyadari bahwa kritik memiliki batas etika. Ketika kritik bergeser menjadi penyebaran informasi yang belum terverifikasi, pembunuhan karakter, atau narasi yang sengaja dibangun untuk merusak kehormatan seseorang, saat itulah demokrasi kehilangan marwahnya.

Bone Bolango tidak membutuhkan politik yang dipenuhi kebencian. Bone Bolango membutuhkan politik yang melahirkan solusi.

Hari ini, siapa pun yang diberi amanah memimpin daerah harus diberikan ruang untuk bekerja, sekaligus diawasi secara objektif. Jika ada kebijakan yang keliru, sampaikan dengan argumentasi. Jika ada dugaan pelanggaran, tempuh mekanisme hukum yang berlaku. Namun jangan sampai ruang publik dipenuhi prasangka yang terus diproduksi tanpa dasar yang jelas, karena yang akan menjadi korban bukan hanya seorang pemimpin, melainkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan dan masa depan daerah itu sendiri.

Kita harus jujur mengakui bahwa fitnah selalu menjadi senjata yang paling murah dalam pertarungan politik. Ia tidak membutuhkan bukti yang kuat. Ia cukup disebarkan berulang-ulang hingga sebagian orang mempercayainya. Lebih berbahaya lagi, di era digital, sebuah informasi yang belum tentu benar dapat menjangkau ribuan orang hanya dalam hitungan menit.

Sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai adat dan agama, kita diajarkan untuk tidak mudah mempercayai setiap kabar yang datang. Kita diajarkan untuk melakukan tabayun, memeriksa kebenaran sebelum mengambil kesimpulan. Nilai ini jangan sampai hilang hanya karena derasnya arus media sosial.

Sebagai Ketua Wilayah Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) Provinsi Gorontalo, saya percaya bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kualitas demokrasi. Mahasiswa tidak boleh menjadi corong fitnah, tetapi juga tidak boleh diam ketika melihat ketidakadilan. Mahasiswa harus berdiri di atas kepentingan rakyat, menyampaikan kritik yang ilmiah, objektif, dan menawarkan solusi.

Sudah saatnya kita mengakhiri politik yang hanya sibuk mencari kesalahan pribadi, lalu mulai membangun budaya politik yang berorientasi pada gagasan, inovasi, dan keberpihakan kepada masyarakat. Bone Bolango masih memiliki banyak pekerjaan besar: meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat pelayanan kesehatan, membuka lapangan pekerjaan, mengembangkan UMKM, serta memastikan kesejahteraan masyarakat hingga ke pelosok desa. Persoalan-persoalan inilah yang seharusnya menjadi fokus bersama.

Mari kita berhenti menjadi penonton yang menikmati konflik. Mari menjadi warga yang menjaga persatuan. Berbeda pilihan adalah hal yang biasa, tetapi menjaga Bone Bolango tetap damai adalah kewajiban kita bersama.

Karena pada akhirnya, jabatan hanyalah titipan, kekuasaan memiliki batas waktu, dan kontestasi politik akan selalu berganti. Namun Bone Bolango akan tetap menjadi rumah kita, tempat anak-anak kita tumbuh, tempat orang tua kita menggantungkan harapan, dan tempat masa depan daerah ini ditentukan.

Jangan biarkan rumah ini dipenuhi kebisingan fitnah. Jangan biarkan perbedaan mengalahkan persaudaraan. Mari kita rawat Bone Bolango dengan akal sehat, etika, dan semangat persatuan.

Sebab ketika kita memilih menjaga marwah daerah daripada memelihara kebencian, sesungguhnya kita sedang mewariskan Bone Bolango yang lebih baik kepada generasi yang akan datang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *