POROSRAKYAT.ID – Momentum Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) dan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Tahun 2025 menuai sorotan tajam. Sejumlah kebijakan yang diambil oleh organisasi mahasiswa (ormawa) dan panitia pelaksana diduga dimanfaatkan untuk meraup keuntungan pribadi dengan dalih perlengkapan kegiatan.
Temuan di lapangan menunjukkan adanya kerja sama antar ormawa untuk memaksakan penjualan berbagai produk kepada mahasiswa baru (Maba), bahkan terhadap hal-hal yang tidak memiliki urgensi bagi proses pengenalan kampus. Ironisnya, kewajiban berbayar tersebut diberlakukan tanpa mempertimbangkan kondisi finansial mahasiswa baru.
Salah satu yang disorot adalah kewajiban membeli scan barcode E-ID Card seharga Rp35.000, yang di dalamnya berisi produk-produk panitia. Alih-alih menjadi bagian penting dari kegiatan PKKMB, hal ini dinilai hanya menambah beban pengeluaran Maba dan memperbesar keuntungan pihak penyelenggara.
Padahal pihak kampus sudah memberikan Id Card menggunakan chip detector secara gratis yang berisi seluruh data mahasiswa
Bahkan, terdapat himbauan pembelian produk di malam hari—di luar jam kegiatan PKKMB—ketika mahasiswa baru sudah kelelahan. Praktik ini dinilai memaksa tanpa memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan bagi peserta.
Kondisi tersebut menuai kritik karena tujuan utama PKKMB semestinya adalah membekali Maba dengan wawasan akademik, kehidupan kampus, dan nilai-nilai civitas akademika. Bukannya menjadikan kegiatan ini sebagai ladang bisnis yang justru menggerus citra UNG sebagai “Kampus Kerakyatan.”
Situasi ini seharusnya menjadi perhatian serius Rektor UNG untuk memastikan PKKMB 2025 berjalan sesuai esensinya, bukan sekadar ajang komersialisasi yang menambah tekanan psikologis dan beban ekonomi bagi mahasiswa baru—terlebih bagi mereka yang bertahan kuliah dengan beasiswa atau modal pas-pasan.














