Daerah  

Perkuat Wawasan Kebangsaan, Satgaswil Gorontalo dan Dit Intelkam Polda Gorontalo Edukasi Pelajar SMP Negeri 2 Telaga tentang Bahaya IRET, NVE, dan Konten True Crime Community

banner 120x600

Dalam upaya memperkuat nilai-nilai kebangsaan sekaligus meningkatkan kewaspadaan pelajar terhadap berbagai ancaman ideologi dan konten negatif di era digital, Unit Pencegahan Satgaswil Gorontalo berkolaborasi dengan Subdit IV Dit Intelkam Polda Gorontalo melaksanakan kegiatan Sosialisasi Wawasan Kebangsaan di SMP Negeri 2 Telaga.

Kegiatan ini diikuti oleh para guru serta siswa-siswi SMP Negeri 2 Telaga dengan penuh antusias. Sosialisasi bertujuan membangun kesadaran generasi muda agar mampu memahami dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila, menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, serta memiliki daya tangkal terhadap berbagai bentuk paham yang bertentangan dengan ideologi negara.

Dalam penyampaian materi, peserta diberikan pemahaman mengenai bahaya penyebaran paham IRET yang berpotensi memengaruhi cara berpikir generasi muda, serta ancaman NVE (Nihilistic Violent Extremism) atau paham ekstremisme kekerasan nihilistik yang berkembang melalui berbagai platform digital. Selain itu, para siswa juga diedukasi mengenai maraknya penyebaran konten True Crime Community di kalangan pelajar yang dapat memengaruhi pola pikir, perilaku, hingga menumbuhkan ketertarikan terhadap tindakan kekerasan apabila dikonsumsi tanpa pemahaman dan pendampingan yang tepat.

Melalui kegiatan ini, diharapkan para guru dan siswa mampu menjadi garda terdepan dalam menangkal penyebaran paham-paham yang menyimpang, lebih bijak dalam menggunakan media sosial, serta terus menanamkan semangat nasionalisme, toleransi, dan cinta tanah air sebagai bagian dari upaya menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kolaborasi antara Unit Pencegahan Satgaswil Gorontalo dan Subdit IV Dit Intelkam Polda Gorontalo ini merupakan bentuk komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, kondusif, serta bebas dari pengaruh paham radikal, ekstremisme, dan konten digital yang berpotensi merusak karakter generasi muda Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *