Tirani di Balik Tembok Pencerahan; Siapa Pahlawan Sebenarnya?
Oleh : Syamsul Lumula (Penulis Muda Gorontalo 2023)
Sitti Maghfirah Makmur, SH., MH., merupakan salah satu pengajar di Perguruan Tinggi Swasta dengan tipe ‘dosen’ yang langka dan kharismatik, bukan hanya cerdas dalam bidang Hukum bidang yang ditekuninya ia juga dikenal karena integritasnya yang setebal tembok kampus. Di balik meja Fakultas Ilmu Sosial – UM Gorontalo, ia adalah mentor, kakak, dan yang paling penting, pelindung bagi mahasiswanya.
Segalanya berubah ketika kasus HP, mahasiswi baru yang viral karena duduk di balkon asrama kampus, memicu perubahan besar dan mencuat hingga ke permukaan. HP ditemukan tidak sadarkan diri di balkon asrama pada 2 Oktober 2025, dan video kejadian itu menyebar luas di media sosial. Esoknya, pihak kampus memberikan klarifikasi dan kesaksian melalui media bahwa yang bersangkutan hanya sekadar ‘Iseng’.
Dalam kegelisahannya, HP mencari perlindungan pada satu-satunya orang yang ia percaya: Sitti Maghfirah Makmur, SH., MH.
Merasa terpanggil, Maghfirah akhirnya membuka ruang diskusi bersama HP untuk menjelaskan situasi sebenarnya melalui podcast. Dalam podcast tersebut, HP mengungkapkan bahwa ia memang dalam kondisi tidak sadarkan diri dan membantah narasi ‘iseng’ yang dilontarkan pihak kampus. Namun, tindakan baik dari Maghfirah ini dianggap mencemarkan nama baik kampus dan berujung pada Pemecatan Tidak Hormat sebagai dosen tetap Program Studi Ilmu Hukum.
Kasus ini kemudian memicu perhatian publik dan memunculkan pertanyaan tentang kebebasan berekspresi dan hak-hak mahasiswa. Banyak pihak kemudian merasa terperanjat sekaligus marah atas keputusan Rektor yang dinilai tidak sejalan dengan nilai-nilai Muhammadiyah dan menyayangkan atas keputusan yang terlalu terburu-buru itu tanpa melibatkan Rapat Senat Akademik.
Di sisi lain, Maghfirah tahu, membongkar kasus ini berarti berperang dengan sistem dan kekuasaan. Namun, prinsip kebenaran yang selalu dipegangnya jauh lebih berharga daripada kenyamanan posisinya. Dengan tegas, ia mengambil langkah berani. Tidak hanya membantu HP dalam mengembalikan hak-haknya, tetapi juga secara terbuka Mengadvokasi kasus ini ke Komisi X DPR RI. Dengan retorika yang tajam, ia berulang kali menegaskan bahwa ‘kejujuran seharusnya di atas segalanya’.
Awalnya, dukungan dari beberapa pihak di lingkungan kampus memberinya harapan. Namun, kekuatan “lingkaran dalam” kampus jauh lebih besar dan terorganisir. Alih-alih melakukan investigasi secara aktual dan empiris, Rektor justru mengajak perang kepada siapa pun yang berdiri melawannya termasuk mahasiswanya sendiri. Bahkan, tim yang dibentuk untuk menyelidiki “pelanggaran etika dan pencemaran nama baik institusi” yang dituduhkan kepada Maghfirah dinilai tidak sesuai koridor. Bahkan, disinyalir, adanya tim investigasi palsu yang dianggap “menggalang perpecahan antara staff dan mahasiswa”.
Dalam waktu singkat, Maghfirah memang kehilangan pekerjaannya, status, bahkan gaji, namun ia mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga: ‘Pengakuan’ bahwa ia adalah dosen yang sesungguhnya. Seorang dosen yang mengajarkan Keberanian bukan hanya di dalam kelas, tetapi juga melalui tindakan nyata. Ia adalah martir integritas, pahlawan sunyi yang dipecat, namun abadi di hati para mahasiswanya.
Meski, di gerbang kampus, kita ‘tak lagi melihat punggungnya namun beberapa mahasiswa, termasuk HP, menunggunya. Mereka tidak bersorak, tetapi berdiri diam, mata mereka menyiratkan perpaduan antara kesedihan dan rasa hormat yang mendalam.
_____
Intinya, jika membela kebenaran dianggap kejahatan, maka siapa sebenarnya yang jahat?
SL, Gtlo, Oktober 2025














